PSAK 29: Akuntansi Minyak dan Gas Bumi

Hepi Prayudiawan

PENDAHULUAN

Karakteristik Akuntansi Industri Minyak dan Gas Bumi

a.         Industri minyak dan gas bumi meliputi usaha pencarian (exploration), pengembangan (development), serta produksi cadangan minyak dan gas bumi, usaha pengolahan minyak dan gas bumi (refinery); dan usaha angkutan dengan kapal laut (tanker) serta usaha pemasaran minyak dan gas bumi serta produk-produk hasil pengolahan yang lain.

Perusahaan dalam industri minyak dan gas bumi dapat berbentuk usaha terpadu (integrated) dalam arti bahwa perusahaan tersebut mempunyai usaha eksplorasi, pengembangan, produksi, refinery, tanker dan pemasaran sebagai satu kesatuan usaha, atau berbentuk usaha-usaha terpisah yang masing-masing berdiri sendiri.

b.         Sifat dan karakteristik industri minyak dan gas bumi berbeda dengan industri lainnya. Pencarian (exploration) minyak dan gas bumi merupakan kegiatan untung-untungan (gambling), karena meskipun telah dipersiapkan secara cermat dengan biaya yang besar, tidak ada jaminan bahwa kegiatan tersebut akan berakhir dengan penemuan cadangan minyak. Berhubung minyak dan gas bumi merupakan usaha yang memerlukan teknologi tinggi, padat modal…

Lihat pos aslinya 6.822 kata lagi

start new day

1. Rencanakan 1 hari sebelum

Kalau bisa diatur 1 hari sebelum, kenapa memulai hari berantakan? Jika Anda melakukan catatan atas apa yang Anda akan lakukan dalam satu hari, bahkan hingga pakaian dan menu sarapan esok hari, Anda akan lebih mampu mengendalikan perasaan dan memulai hari dengan santai. Manfaatkan waktu sekitar 20 menit satu hari sebelum, akan memberikan Anda waktu 30 menit dihari esoknya.

2. Cobalah meditasi 15 menit

Meditasi dapat menstimulasi otak Anda lebih dalam. Menenangkan diri di pagi hari juga memberikan waktu untuk berpikir jernih dan menjauhkan energi negatif yang ada disekitar.

3. Mulailah dengan bacaan yang menginspirasi

Pada umumnya orang memulai hari dengan membaca koran, tetapi berita koran belum tentu dapat menginspirasi ataupun mencerahkan hari Anda. Bacalah bacaan yang membangkitkan semangat, menginspirasi, bahkan mengandung humor. Tujuannya untuk menstimulus otak disaat masih segar.

4. Temukan pandangan segar

Jika setiap hari Anda bangun pagi dengan suasana yang mendatar. Cobalah untuk berikan warna, seperti foto bunga segar, atau pemandangan indah yang luas. Riset membuktikan bahwa warna cerah di pagi hari dapat memberi semangat dan energi.

5. Ganti Kopi dengan Teh Hijau.

Kopi dikenal sebagai stimulan yang pas, tapi terkadang kopi bisa menstimulasi berlebihan yang tidak sehat. Bahkan zat asam yang dikandung kopi terkadang mempengaruhi lambung sehingga membuat Anda keluar masuk kamar mandi. Cobalah teh hijau sebagai peganti minuman berkafein yang lebih ringan. Selain lebih sehat, teh hijau lebih murah dan kini pun mudah didapatkan.

6. Yoga

Anda pasti sudah cukup paham mengenai manfaat olah raga di pagi. Cardio sudah sangat baik, tetapi cobalah untuk melakukan sedikit Yoga sebagai rutinitas. Yoga dipercaya dapat mengendalikan pernapasan, merenggangkan otot, dan mengumpulkan energi.

7. Tentukan jadwal yang memberi harapan

Setiap pagi cobalah untuk mengetahui dari semua rencana Anda, mana yang dapat memberikan Anda semangat dan harapan. Prospek dari meeting atau opportunity yang menyenangkan dan produktif mampu memberi semangat dan senyum bagi Anda.

Kebutuhan Daging Ayam Terus Melambung

TIDAK ada yang istimewa pada gerobak milik Haryati yang berjejer di antara gerobak kaki lima di seberang Pasar Johar, Semarang. Namun, gerobak yang dijadikan usaha ayam goreng kaki lima ala Amerika yang dirintisnya 16 tahun terakhir ini selalu saja ramai disambangi pembeli. Bahkan fried chicken dengan label “Sekar Arum” yang dijual dengan harga rata-rata Rp 4 ribu ini bisa ludes hanya dalam waktu 3-4 jam. Pembeli ayam goreng tepung buatan Haryati ini pun cuma berasal dari pengunjung pasar dan warga sekitar saja.

“Saya ambil daging ayam dari Salatiga. Dalam sebulan biasanya menghabiskan ayam potong sekitar 30 kuintal. Kalau sekilo jadi 15 potong, ya omsetnya sekitar Rp 20 jutaan,” jelas Haryati.

Tidak hanya “Sekar Arum”, di sekitar pasar terbesar di Semarang ini juga terdapat usaha serupa dan usaha makanan lainnya yang menggunakan daging ayam sebagai bahan baku utama. Sajian ayam sudah menjadi menu yang lazim ada dalam daftar menu baik di resto mahal maupun di warung kaki lima.

Ya, tak memungkiri, jumlah penduduk Indonesia yang sebagian besar menyukai daging ayam merupakan potensi sangat besar bagi industri hilir seperti makanan olahan, Termasuk restoran waralaba cepat saji (fast food). Sebut saja PT Fastfood Indonesia, Tbk yang menaungi usaha warabala restoran KFC yang terus menambah gerai di kota besar di Indonesia hingga 417 unit dengan keuntungan penjualan kuartal 1 pada2012 mencapai Rp 840,7 miliar, tumbuh 10-15 persen dari realisasi periode yang sama di tahun 2011 sebesar Rp 731 miliar.
Belum lagi usaha serupa seperti McDonald, California Fried Chicken, dan brand fast food lain yang bertebaran di berbagai kota besar.

Menurut Departemen Riset IFT, kenaikan konsumsi ayam terjadi karena meningkatnya populasi penduduk dan daya beli masyarakat. Ini terlihat dari data BPS tahun 2010 yang menyebutkan, populasi ternak unggas ayam pedaging mencapai 1,25 milyar ekor, ayam petelur sebanyak 104 juta ekor, ayam bukan ras (buras) sebanyak 270 juta ekor.

Don P Utoyo, Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia, mengatakan, omset industri perunggasan 2012 diperkirakan mencapai Rp 120 triliun, meningkat 9,1% (yearon-year) dari proyeksi omset tahun 2011 sebesar Rp 110 triliun. Kenaikan omset ini didorong peningkatan penjualan di segmen bibit ayam, pakan ternak, budidaya ayam, dan obat obatan hewan.

Industri Hilir

Pesatnya industri hilir dengan konsumsi unggas yang begitu besar itulah yang membuat industri hulu seperti pakan ternak, pembibitan dan obat-obatan dalam negeri memiliki peluang bisnis yang menjanjikan bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang peternakan. Terlebih lagi, kebutuhan pakan menyedot kontribusi hingga 70% dari total biaya produksi peternakan.

Seperti tiga emiten peternakan besar yakni, PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), PT Japfa ComfeedIndonesia (JPFA), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) yang terus gencar melakukan ekspansi di lini bisnis hilir maupun hulu untuk mengantisipasi tren kenaikan konsumsi ayam nasional.

Ketiga perusahaan itu terus meningkatkan kapasitas anak ayam umur sehari atau day old chicken (DOC) dan pabrik pakan dengan menyisihkan dana Rp 1,5 trilliun untuk ekspansi di tiga divisi, yaitu pakan ternak, peternakan DOC, dan makanan olahan untuk meningkatkan kapasitas produksi melalui perluasan pabrik.

Atau PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) yang pembangunan pabrik pakan ternak berkapasitas mixer sebesar 300 ton per tahun dan pembangunan tiga farm day old chick (DOC) dan membangun bisnis downstream yaitu pabrik pengolahan makanan, dengan omzet berkisar Rp 80 miliar.

Memang, investasi asing seperti Charoen Pokphan (Thailand), Cheil Jedang (Korea), Japfa Comfeed, Sierad ( Malaysia) masih mendominasi dengan menguasai hingga 80% pasar industri peternakan ayam komersial di Indonesia karena terintegrasi dengan industri pakan ternak dan pengolahan produk ternak.

Kemitraan

Sedangkan peternakan rakyat yang jumlahnya lebih banyak dari pabrikan besar kini mulai tersingkir karena tidak menggunakan teknologi modern dan kendala investasi. Sehingga sejumlah produsen besar kemudian mengembangkan pola kemitraan dengan menjalin kerjasama dengan perternakan rakyat melalui konsepcontract farming antara produsen pakan ternak besar dengan para peternakan rakyat yang memelihara ayam untuk sebuah perusahaan yang terintegrasi secara vertikal.

Biasanya peternak menyediakan tanah, kandang, peralatan dan tenaga kerja. Sedangkan perusahaan memberi fasilitas pemeliharaan dan sapronak (sarana produksi peternakan) seperti DOC, pakan, obatan-obatan, dan pengarahan manajemen dengan sistem bagi hasil.

Namun, kendati kebutuhan daging ayam sudah swasembada, perkembangan industri perunggasan seperti obat hewan serta pakan ternak seperti jagung bungkil kedelai, tepung ikan masih sangat bergantung pada impor.

Bibit unggas, GPS (grand parent stock) maupun PS (parent stock) baik broiler maupun layer juga masih mengandalkan impor karena 12 perusahaan pembibitan ayam GPS dan 39 perusahaan pembibitan ayam parent stock (PS) tidak mampu memenuhi pasokan.

Perusahaan masih impor karena di dalam negeri belum dapat produksi indukan ayam (GPS dan PS) tersebut, lonjakan impor memang menyolok, tapi itu terpaksa kita lakukan,” Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) IndonesiaKrissantono.

Tahun 2020, dengan populasi penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 250 juta jiwa, target konsumsi daging ayam broiler adalah 8 kg/kap/th, sehingga dibutuhkan angka produksi DOC ayam broiler sebesar 38juta ekor/minggu.

Sehingga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia yang tumbuh 13% butuh produksi anak ayam rata-rata sebesar 31 juta ekor per pekan atau 1,5 miliar ekor per tahun.

Karena itu, prospek industri perunggasan memegang peranan sangat penting. Industri ini tumbuh dan berkembang pesat menjadi industri yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Bahkan, industri ini memberikan kontribusi sebesar 65% dari total produksi daging nasional.

Tapi, ironisnya meskipun sumber protein daging ayam mudah diakses masyarakat, namun capaian tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia masih di bawah standar kecukupan gizi. Konsumsi daging ayam dengan penduduk 240 juta jiwa masih relatif rendah dibanding negara-negara tetangga. Konsumsi ayam untuk Indonesia tahun 2011 sekitar 7 kg/kapita/tahun jauh dibawah Malaysia yang mencapai 36 kg/ kapita/tahun. (non)

Kebutuhan Pakan Ternak di Indonesia*

Tahun Kebutuhan
2008 9,9 juta ton
2009 9,7 juta ton
2010 11,2 juta ton
2011 12,3 juta ton
*data : berbagai sumber

Impor Grand Parent Stock (GPS) Unggas*

Tahun Impor
2007 361.460 ekor
2008 370.036 ekor
2009 404.774 ekor
2010 402.414 ekor
2011 480 ribu ekor
*data : Direktorat Jenderal Peternakan